Kamis, 25 September 2014

Tugas Artikel BK Pada Jalur, Jenis, Jenjang Pendidikan


Bimbingan dan Konseling di Pendidikan Kesetaraan







 

A.      Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan



Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program bimbingan dan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum perundang-undangan, namun yang lebih penting adalah adalah adanya kesadaran atau komitmen untuk memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

Tujuan ini mempunyai impikasi imperatif bagi semua jenjang jenis, dan jalur pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tsb.

Pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang menintegrasikan tiga komponen atau bidang utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang intruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling

1.      Bidang Administrasif dan Kepemimpinan

Bidang ini merupakan bidang kegiatan yang menyangkut kegiatan pengelolaan pogram secara efisien. Pada program ini terletak tanggungjawab kepemimpinan, yang terkait dengan kegiatan perencanaan, organisasi, deskripsi jabatan atau pembagian tugas, pembiayaan, penyediaan fasilitas atau sarana dan prasarana (material), supervisi dan evaluasi program.

2.      Bidang Instruksional atau Kurikuler

Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang diprogramkan.personel yang bertanggung jawab secara langsung terhadap bidang ini adalah para guru.

3.      Bidang Bimbingan dan Konseling

Bidang yang dekat dengan program pemberian layanan bantuan kepada peserta didik siswa dalam upaya mencapai perkembangan yang optimal, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, akademik, maupun karier. Personel yang bertanggungjawab langsung terhadap pelaksanaan bidang ini adalah guru bk atau konselor. Bidang ini terkait juga dengan kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa atau pengembangan kecerdasan jamak.







B.       Landasan Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Pendidikan Kesetaraan (Paket B setara SMP)


Secara umum landasan pelaksanaannya sama dengan landasan pelaksanaan di pendidikan persekolahan (formal), namun yang menjadi perbedaan dalam praktik pelaksanaannya adalah keberadaan atau latarbelakang peserta didik pendidikan kesetaraan dengan pendidikan formal sangat berbeda baik dari segi keluarga, ekonomi, orangtua, latar belakang pendidikan orangtua, lingkungan peserta didik tinggal dan sebagainya, sehingga hal perbedaan inilah yang sangat perlu diperhatikan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.

Pentingnya pelaksanaan bimbingan dan konseling di dunia pendidikan kesetaraan (paket B setara SMP) sangat jelas diperlukan dibandingkan dengan keberadaan peserta didik yang duduk di pendidikan persekolahan (formal) dan telah sesuai dengan berbagai landasan sebagai dasar hukum tertulis pelaksanaan bimbingan dan konseling untuk dunia pendidikan. 






C.      Peningkatan Kualitas Layanan Bimbingan dan Konseling


Menurut beberapa ahli kualitas dapat disimpulkan yaitu kesesuaian antara proses dan hasil dari sesuatu yang diinginkan dengan harapan atau kebutuhan konsumen. Dengan demikian, yang dimaksud dengan kualitas layanan bimbingan dan konseling di paket B setara SMP adalah seberapa jauh sifat-sifat dan segi-segi proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling di paket B setara SMP memuaskan kebutuhan dan harapan peserta didik/warga belajar.

Dengan mengacu kepada pandangan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas layanan bimbingan dan konseling tsb, dapat ditarik kesimpulan apa saja upaya-upaya yang dapat mengarah kepada peningkatan kualitas layanan bimbingan dan koseling di tingkat SLTP :

1.      Mengembangkan dan melaksanakan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan nyata siswa.

2.      Menambah jumlah guru pembimbing sehingga sebanding dengan jumbal siswa.

3.      Meningkatkan profesionalisme guru pembimbing.

4.      Menyediakan sarana dan prasarana bimbingan dan konseling yang memadai.

5.      Meningkatkan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat atau orangtua peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling.

6.      Menumbuhkan apresiasi yang positif thdp pekerjaan bimbingan pada diri peserta didik dan guru/tutor.

7.      Menata lebih baik sistem manajemen bimbingan dan konseling.







D.      Batasan Model Bimbingan dan Konseling


Model adalah suatu rencana atau pola kegiatan yang dapat digunakan untuk membentuk, merancang, dan memandu suatu kegiatan tertentu. Di dalam model bimbingan dan konseling, lazimnya terkandung komponen-komponen tertentu yang merupakan isi model tersebut. Dengan mengacu kepada konsep dasar bimbingan dan konseling di paket B setara SMP adalah suatu rencana atau pola kegiatan dengan pendekatan perkembangan komperhensif. Rencana atau pola kegiatan tersebut dijabarkan kedalam komponen-komponen layanan bimbingan dan konseling yang komperhensif, yaitu bidang akademik atau belajar, pribadi, sosial dan karir.







E.       Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling bagi Peserta Didik


Blocher dan Biggs memberikan 2 strategis klinis secara umum untuk semua situasi termasuk dalam seting masyarakat. Strategi pertama adalah memberikan perbaikan dengan pengalaman hidup baru, artinya peserta didik harus dapat merubah kehidupan tanpa melihat asal usul masalah mereka. Strategi kedua adalah dengan pendekatan umpan balik langsung kepada konseli sehingga dapat membantu konseli menyadari apa yang telah ia kerjakan atau yang belum ia kerjakan, apa yang telah dipikirkan dan apa yang belum dipikirkan, dan apa yang ia telah rasakan dan yang ia belum rasakan dalam berbagai siuasi. (1983:49)

Sedangkan untuk teknik classical conditioning ada 3 fase yaitu :

1.      Respon yang tidak terkondisikan

2.      Memberikan kondisi pembelajaran

3.      Kondisi yang dihasilkan

Kemudian berikut adalah terapi realiti, terapi realiti melibatkan 3 langkah yaitu keterlibatan pribadi, mengembalikan prilaku dari yang tidak realistis, dan belajar bertanggung jawab prilaku. Ada 8 prinsip dasar dalam mengikuti terapi realistis, yaitu :

1.      Peduli (caring)

2.      Perasaan (feeling)

3.      Kekinian (currently)

4.      Tanggung jawab (responsibility)

5.      Perencanaan (planning)

6.      Komitmen (commitment)

7.      Alasan yang jelas (clear)

8.      Tidak menekan konseli dalam pernyataan kritikan (don’t critic from student)

Pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) salah satu penyelenggara pendidikan kesetaraan yang didirikan oleh masyarakat dari masyarakat untuk masyarakat memiliki kehidupan kelompok yang sangat heterogen. Untuk mencapai kesuksesan layanan bimbingan dan konseling bagi peserta program paket B setara SMP diperlukan banyaknya konsultasi dan latihan. Ada 2 tipe yang dapat digunakan dalam konsultasi layanan bimbingan dan konseling yaitu “inderect helping” dimana konselor dalam bekerja memerlukan mediator dan tipe yang kedua adalah “direct” dimana konselor bekerja secara langsung.

Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan sebuah latihan intervensi psikologi, latihan keterampilan sosial, pendidikan psikologi yang disengaja, dan latihan membantu masyarakat dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bagi peserta paket B setara SMP atau bagi masyarakat.













Daftar Pustaka :

-          Sutirna. 2013. Bimbingan dan Konseling Pendidikan Formal, Non formal, dan Informal.Yogyakarta : CV. Andi Offset.

-          Yusuf, Syamsu.2009. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung : Rizqi Press.